Misi DPMPTSP Jaga Iklim Investasi di Jabar



RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) memiliki catatan penting agar iklim investasi bisa tetap sehat.
Kepala DPMPTSP Jabar, Dedi Taufik mengatakan, sejak dilantik pada akhir Maret lalu, ia sudah melakukan analisis dan pemetaan potensi penanaman modal.
Sektor unggulan masih berada di manufaktur industri, tekstil elektronik, otomotif. Lalu, industri Pariwisata, ekonomi kreatif, pertanian, perkebunan dan perikanan hingga energi baru terbarukan.
Infrastruktur dan properti pun masuk dalam kategori ini. Lalu, ada pula pemetaan kawasan strategis seperti wilayah ekonomi khusus dan wilayah prioritas.
“Hasil analisis yang sudah dilakukan, diperlukan regulasi dan insentif investasi, seperti kemudahan perizinan itu sudah ada, namun harus dibuat makin baik. Lalu, insentif pajak bagi industri strategis,” jelas Dedi.
“Kepemilikan lahan indsutri juga harus difasilitasi agar tidak menyalahi aturan yang berlaku, termasuk pembangunan infrastruktur pendukung. Digitalisasi dan smart investment di kota besar harus dipertajam,” ia melanjutkan.
Pekerjaan berikutnya adalah membuat strategi pemasaran dan promosi investasi agar Jawa Barat semakin unggul. Upaya membangun membangun citra Jabar sebagai wilayah potensial untuk investasi diperlukan kemitraan dan kolaborasi.
Dedi Taufik mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat manargetkan investasi mencapai Rp270 triliun dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi sebesar 5,6 persen pada 2025.
Capaian investasi Jabar pada 2024 sebesar Rp251,14 triliun, berhasil menyerap sekitar 383.000 tenaga kerja. Untuk itu, perlu upaya untuk meningkatkan kapasitas SDM agar sesuai dengan kebutuhan investor.
Investasi 2024 Jabar masih tertinggi secara nasional. Dengan total investasi Rp251,14 triliun, capaiannya meningkat 19,24 persen dari tahun sebelumnya. Realisasi investasi terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp149,5 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp101,54 triliun.
Investasi berpusat di lima kabupaten/kota, empat daerah di antaranya berada di wilayah utara dengan porsi investasi 75 persen dari total investasi di Jawa Barat.
Penyerapan tenaga kerja dari investasi PMA PMDN relatif menyebar. Proyek investasi PMA PMDN sebagian besar juga berada di Jawa Barat bagian utara.
Satu hal lain yang harus menjadi fokus adalah peningkatan kualitas tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja di berbagai sektor, seperti contohnya industri otomotif.
“Silabus pendidikan seperi di SMK harus diarahkan terhadap perkembangan dan kebutuhan industri. Sehingga, mereka sudah siap diserap, karena kebutuhan (tenaga kerja) yang diminta investor juga sudah spesifik” terang Dedi
“PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) juga harus dipertahankan, termasuk yang sudah berjalan,” ucap Dedi Taufik.
Kawasan Ciayumajakuning pun akan tetap digenjot agar menjadi tujuan favorit investasi di Jabar karena memiliki lahan yang luas dan dukungan infrastruktur yang lengkap. (dbs)