Terdaftar JKN, Rachel Dapatkan Layanan Kesehatan Optimal Hingga Sembuh Total


RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Hadirnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (jkn) memberikan rasa aman bagi masyarakat karena menjamin peserta mendapatkan perawatan yang layak tanpa harus khawatir akan beban biaya terutama saat menghadapi kondisi medis yang tidak terduga.
Kian hari, bpjs kesehatan sebagai penyelenggara program ini, menawarkan berbagai kemudahan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi dengan menghadirkan berbagai fitur pada aplikasi Mobile jkn seperti fleksibilitas dalam pemilihan fasilitas kesehatan dan perlindungan finansial terhadap biaya pengobatan.
Rachel Auli Manik (20) telah memanfaatkan Program jkn sejak tahun 2023. Perempuan yang berasal dari Kota Jambi ini melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandung.
Sebagai peserta jkn yang terdaftar dalam segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) melalui tanggungan orang tuanya yang bekerja di perusahaan swasta, awalnya Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempatnya terdaftar masih berada di wilayah Kota Jambi.
Menyadari perlunya akses layanan kesehatan yang lebih dekat dengan domisilinya di Bandung, Rachel memanfaatkan fitur pada Mobile jkn untuk mengubah FKTP-nya secara langsung yang terdekat dari domisilinya di Kota Bandung, tanpa perlu datang ke kantor bpjs kesehatan.
Rachel menceritakan pengalamannya saat mengalami gejala awal penyakit leukositosis, yaitu kondisi di mana jumlah sel darah putih dalam tubuhnya meningkat secara berlebihan.
Ia kemudian melakukan pemeriksaan di FKTP dimana hasil diagnosis awal dari dokter di FKTP memberikan rujukan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di rumah sakit untuk pemeriksaan secara menyeluruh.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis, Rachel didiagnosis mengalami komplikasi leukositosis yang memerlukan penanganan rawat inap hingga 2 minggu lamanya.
”Awalnya saya hanya merasakan gejala ringan di permukaan kulit, jadi tidak pernah terpikir bahwa itu adalah tanda dari penyakit yang cukup serius. Saat dokter menyampaikan hasil pemeriksaan, saya cukup kaget. Namun, saya sangat bersyukur sudah terdaftar sebagai peserta jkn. Kalau tidak, mungkin orang tua saya harus menyisihkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan saya. Selama saya dirawat, kami tidak mengeluarkan biaya sedikitpun,” kenang Rachel.
Rachel mengakui bahwa sebelumnya ia sering mendengar pandangan negatif dari masyarakat mengenai pelayanan bagi peserta bpjs kesehatan, baik di klinik maupun rumah sakit.
Namun setelah merasakan sendiri secara langsung layanan dan manfaat yang diberikan oleh Program jkn, ia dengan tegas mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar adanya. Salah satu hal yang paling dirasakan oleh Rachel adalah layanan yang tidak membedakan.
”Dulu ada kabar simpang siur kalau pasien bpjs kesehatan hanya bisa dirawat selama 3 hari dan akan disuruh pulang walaupun belum sembuh total. Tapi buktinya, saya dirawat selama dua minggu penuh sampai kondisi saya pulih dan selama itu pula layanan yang diberikan oleh dokter maupun perawat saya rasa sangat baik. Tidak ada perlakuan diskriminatif sama sekali meskipun saya adalah pasien bpjs kesehatan,” tutur Rachel.
Mahasiswa yang baru menginjak umur 20 tahun ini memahami bahwa prinsip dasar bpjs kesehatan ini bertumpu pada sistem gotong royong. Maka dari itu, ia berharap semoga semakin banyak orang dapat menyadari bahwa dengan adanya Program jkn ini akan memberikan manfaat bagi lebih banyak masyarakat.
Dengan menjadi peserta aktif yang rutin berpartisipasi dalam pembayaran iuran, walaupun tidak selalu harus menggunakannya, tapi hal tersebut merupakan kontribusi nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Sampai saat ini, saya masih harus melakukan check up rutin dan juga mengkonsumsi obat yang dianjurkan dokter. Tetapi segalanya mudah dengan jkn. Seperti saya yang bersyukur karena terbantu dengan adanya bpjs kesehatan, saya juga berharap lebih banyak orang bisa merasakan manfaat dari program ini ketika sakit, terutama bagi mereka yang tidak mampu membayar biaya pengobatan kesehatan yang tinggi. Dengan gotong royong semua tertolong,” tutup Rachel (MI/rs)