Ancaman Resesi Indonesia, Rumah Zakat Optimalisasi Dana ZISWAF



RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Sebagai upaya menghadapi ancaman resesi ekonomi di Indonesia, Rumah Zakat meluncurkan kolaborasi kebaikan yang merupakan optimalisasi dana ZISWAF melalui serangkaian program pemberdayaan. Di antaranya adalah wakaf UMKM, sahabat kebaikan, hingga kurban.
Wakaf UMKM adalah optimalisasi dana wakaf untuk membantu para pelaku UMKM dengan tetap memperhatikan aturan-aturan syariah dan wakaf. Saat ini Rumah Zakat telah menyalurkan bantuan wakaf kepada 1.204 UMKM yang tersebar di 24 kota/kabupaten.
Rencananya 50 ribu UMKM ditargetkan Rumah Zakat dalam pengoptimalan dana wakaf. “UMKM memiliki pangsa sekitar 99% atau lebih dari 60 juta unit dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi memberikan dampak pada UMKM, maka membantu mereka merupakan tulang punggung negara sama dengan membantu perekonomian bangsa,” kata CEO Rumah Zakat, Nur Efendi pada press conference daring, Kamis (10/09).
Sementara itu, Sahabat Kebaikan merupakan program yang sejalan dengan agenda padat karya yang diinisiasi pemerintah sebagai upaya menurunkan angka pengangguran akibat terdampak pandemi Covid-19. Melalui program Sahabat Kebaikan, Rumah Zakat mengajak masyarakat menjadi bagian dalam melakukan sosialisasi, edukasi, dan penghimpunan dana ZISWAF untuk disalurkan kepada yang terdampak pandemi melalui program pemberdayaan.
Efendi mengungkapkan, berdasarkan hasil penelitian Purwanti (2020) setiap Rp 1 miliar zakat yang berhasil dihimpun akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,12 persen. Namun dari potensi zakat nasional sebesar Rp 233,8 triliun, baru 4,3 persen yang terhimpun pada 2019 atau sekitar Rp 10 triliun.
“Adanya Sahabat Kebaikan diharapkan mampu mengoptimalkan perhimpunan dana ZISWAF sehingga kita dapat turut menggerakkan ekonomi Indonesia,” sambungnya.
Efendi melanjutkan, Rumah Zakat juga berkolaborasi dengan mitra perbankan untuk meluncurkan program Tabungan Qurban (Taqur). Sejak tahun 2000, Rumah Zakat melakukan optimalisasi daging kurban dengan melakukan pengemasan menjadi kornet dan rendang agar tahan lebih lama dan mudah didistribusikan.
Di masa pandemi Covid-19, Superkurban menjadi alternatif dalam program ketahanan pangan karena dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi masyarakat yang membutuhkan di 1.683 kota/kabupaten di 33 provinsi. Begitu juga dengan program Desaku Berkurban yang turut menggerakkan ekonomi masyarakat lewat pemberdayaan peternak lokal terdampak pandemi di desa.
Selain itu, hadirnya tabungan kurban dapat menjadi solusi dalam menghadapi resesi sehingga memudahkan masyarakat dalam melaksanakan ibadah kurban, serta bermanfaat bagi ketahanan pangan negara Indonesia.
“Kita menyadari bahwa kondisi saat ini masih kurang baik. Pandemi Covid-19 yang masih belum terkendali berdampak pada ekonomi kita sehingga terancam masuk ke dalam jurang resesi. Maka penting untuk kita saling gotong royong, berkolaborasi untuk bersama atasi krisis ini,” tandasnya. (fid)